Agar Kuat di Pemilu 2024, Golkar Diminta Dekati Milenial-Punya Tokoh Baru

Jakarta – Pengamat politik dari Poltracking, Hanta Yuda, menilai pemilih Partai Golkar pada 2019 terbilang cukup besar. Namun, menjelang Pemilu 2024, Golkar disarankan memperluas basis pemilihnya di kalangan milenial.

“Basis-basis pemilih juga kan semakin bergeser, pemilih yang usia senior semakin berkurang, kemudian pemilih muda semakin membesar,” ujar Hanta dalam diskusi ‘Golkar Mempersiapkan Transformasi Kader Bangsa’ di Jenggala Center, Jl Erlangga, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (19/11/2019).

Hanta mengatakan Golkar bisa memperluas basis pemilihnya dengan beragam pendekatan yang bisa diterima kaum milenial. Pendekatan yang dimaksudnya ialah Golkar sebagai mesin politik, harusnya menggunakan semacam segmentasi baru yang tidak monoton.

“Itu tantangan yang pertama adalah melakukan perluasan basis segmentasi pemilihan. Bagaimana Golkar ingin memperluas basisnya kalau cara berkampanye dalam kompetisi elektoral tidak beranjak,” katanya.

Diskusi ‘Golkar Mempersiapkan Transformasi Kader Bangsa’ di Jenggala Center.Diskusi ‘Golkar Mempersiapkan Transformasi Kader Bangsa’ di Jenggala Center (Farih/detikcom)

Selain itu, kata dia, branding Golkar yang dikenal memiliki struktur kelembagaan yang kuat harus dikombinasikan dengan wajah baru Golkar. Menurutnya, hal itu akan memberikan pesan publik yang lebih positif terhadap Golkar.

“Saya ingin poin terakhir nih transformasi kepemimpinan, bagaimana kepemimpinan. Kepemimpinan itu bukan hanya hanya ketua umum, itu adalah sebuah sistem yang mengakar ke dalam tetapi juga menjulang ke luar. Menjulang itu ke segmentasi anak muda, semua bagaimana dia mewakili semua segmentasi kita. Bagaimana Golkar ketua umumnya, organisasinya merepresentasikan anak muda, kepentingan perempuan, dan lain sebagainya,” jelasnya.

Selanjutnya, Hanta mengatakan Golkar harus melakukan konsolidasi internal. Menurutnya, menjadi tantangan Golkar bagaimana melembagakan faksionalisme yang saling menguatkan di dalam internal.

“Di Indonesia partai yang tingkat kelembagaannya paling tinggi adalah Golkar, karena diuntungkan panjang usia warisan Golkar itu sangat kuat sekali. Kalau misal Golkar bisa mengkombinasikan, kombinasi antara lembaga yang kuat dan figur yang kuat itu kombinasi yang dahsyat. Tapi kan belum ada,” ungkapnya.

Hanta menduga jika Indonesia menganut sistem parlementer, maka Golkar akan terus berjaya. Namun, karena Indonesia menganut sistem presidensial, Golkar harus mempersiapkan diri agar kadernya tak cuma berjaya di parlemen tapi juga menjadi presiden.

“Saya menduga, kalau Indonesia menerapkan sistem parlementer, mungkin perdana menterinya di Indonesia ini selalu dari Partai Golkar. Terbukti Ketua DPR RI selalu dari Partai Golkar. Kenapa? Kita lihat kalau tidak dikunci dengan UU MD3 selalu dari Golkar, Pak Akbar Tandjung, Pak Agung Laksono, Setya Novanto, Ade Komarudin, dan sebagainya. Itu menandakan bahwa betapa berpengalamannya, piawainya, kemampuan lobi Golkar tidak perlu diragukan,” ujar dia.

“Poin saya adalah PR-nya bahwa itu sistem presidensial yang salah satu cirinya pemilihan presiden secara langsung menjadi PR Golkar yang belum pernah memenangkan kadernya dan menang baru terakhir bersama Pak Jokowi,” sambungnya.


sumber: https://news.detik.com/berita/d-4790798/agar-kuat-di-pemilu-2024-golkar-diminta-dekati-milenial-punya-tokoh-baru