Kongres di-Luar ke-Biasa-an Partai Demokrat

Perkembangan politik intraparty PD menunjukkan bahwa KLB Bali mendatang akan digiring pada aklamasi dengan opsi yang ditentukan oleh Majelis Tinggi (MT). Tentu orang yang paling berkuasa akhirnya adalah SBY sebagai Ketua MT, bukan lagi kader atau konstituen daerah yang direpresentasikan oleh DPD dan DPC layaknya Kongres 2010 di Bandung. Akhirnya memang KLB Bali menjadi semacam Kongres (di Luar Kebiasaan) bagi Demokrat dan khalayak publik yang awalnya simpatik dengan mekanisme demokratis pada Kongres 2010.

Namun perkembangan politik intraparty yang dikontestasikan ke publik secara sporadis menunjukkan adanya tiga kluster wacana yang diputar oleh elite demokrat, yaitu wacana triangulasi faksi “MAS” Demokrat, wacana tumbal politik, dan wacana zero sum game.

Terkait dengan kluster wacana MAS Demokrat adalah munculnya beberapa orang kader internal partai yang secara pribadi siap maju berdasarkan pemetaan triangulasi faksi “MAS” sebelumnya. Yaitu faksi Marzuki yang ditampilkan oleh Marzuki Alie dan Max Sopacua, faksi Anas yang ditampilkan dengan kesiapan Saan Mustopa dan Tridianto, serta faksi SBY yang ditunjukkan dengan kesiapan Jero Wacik dan Syarifuddin Hasan. Sedangkan di luar kader “MAS” Demokrat tersebut, ada beberapa orang kader yang disebut sebagai tumbal politik namun tidak siap. Dalam hal ini, ada dua kelompok yang menjadi tumbal politik. Pertama adalah kelompok tumbal Istana alias menteri Demokrat (Amir Syamsuddin, Roy Suryo, dan E.E. Mangindaan). Sedangkan kelompok kedua adalah orang-orang yang ditumbalkan untuk mengacaukan konsolidasi masing-masing kepentingan faksi, seperti Ani, Toto Riyanto, dan Soekarwo.

Sedangkan pada saat yang sama, kader Demokrat juga melempar wacana ada satu kelompok lagi yang dianggap mampu mendamaikan dengan mekanisme kompetisi zero sum game atau pertarungan dengan kekalahan masing-masing pihak. Orang-orang dalam wacana ini yang dapat mendamaikan paling tidak faksi M dan faksi A, namun menguntungkan faksi S, orang-orang yang masuk wacana politik ini yaitu Pramono Edhie, Mahfud Md., Djoko Susilo, dan Gita Wirjawan.

Dengan kata lain, triangulasi faksi “MAS” Demokrat adalah aktor-aktor krusial yang akan mewarnai dan menentukan proses dan hasil KLB. Di titik ini, terdapat dua kemungkinan terhadap triangulasi faksi ini. Pertama, KLB akan berjalan sesuai dengan gagasan aklamasi jika terjadi konsolidasi antar-faksi, terutama Marzuki cs dan SBY cs menjelang KLB. Di sisi lain, faksi M adalah kelompok yang paling bisa berdamai karena tidak berada dalam pertentangan biner SBY-Anas. Artinya, faksi M berpotensi sebagai faktor determinan konstelasi KLB karena berpotensi merapat ke SBY ataupun Anas. Kedua, melihat perkembangan yang ada, kecenderungan diaspora kader dan elite sangat kuat yang dapat dilihat dengan kesiapan Max, Tri, dan Jero yang mengaburkan konsolidasi masing-masing fraksi. Demokrat yang pada 2010 dikembangkan dengan nalar demokrasi akan bersambut gayung dengan sunatullah politikus untuk berkuasa.

Selain dua skema antara konsekuensi atas kemungkinan konsolidasi faksi menjelang KLB dan kecenderungan diaspora faksi baru-baru ini, konstelasi KLB hanya akan bermain pada wacana yang pertama atau wacana MAS Demokrat, karena wacana tumbal politik dan wacana zero sum game akan berlaku pasif. Sedangkan orang-orang yang terlibat dalam wacana “MAS” Demokrat akan berlaku aktif. Sementara itu, hampir tiga faksi dalam perkembangan yang ada mengalami diaspora.

Faksi Anas mengalami diaspora, karena hilangnya sumber legitimasi dari Anas sebagai ketua umum untuk mengamankan dirinya masuk DCS atau struktur kepengurusan partai/parlemen yang strategis. Plotting politikus di Demokrat akan ditentukan oleh MT di bawah veto SBY, baik di level intraparty (kepengurusan), parlemen, maupun kabinet. Hal inilah yang menjelaskan terjadi diaspora faksi karena setiap orang berusaha mengamankan diri atau mengambil risiko sekaligus dengan menyatakan kesiapan maju sebagai ketua umum.

Sedangkan faksi Marzuki adalah sebentuk innocent group yang berpotensi memainkan konstelasi KLB. Namun, karena jejaringnya yang lemah, baik di level daerah maupun pusat-karena Marzuki selama periode 2010-2013 tidak memainkan plotting veto terhadap politikus Demokrat-faksi ini juga mengalami diaspora yang ditunjukkan oleh kesiapan Max yang awalnya membangun wacana Marzuki.

Faksi SBY yang paling mempunyai porsi kekuasaan paling besar dalam plotting veto pasca-Anas karena, selain secara kultural, gerbong ini adalah yang paling dominan dalam komposisi MT saat ini. Sehingga gagasan pengamanan menjadi logis dengan usaha Cikeas untuk melakukan prakondisi aklamasi dengan memastikan kepatuhan DPD melalui pernyataan yang harus ditandatangani soal keputusan-keputusan yang diambil oleh MT. Namun SBY akan berpotensi menjadi common enemy bagi faksi M dan faksi A jika tidak melakukan prakondisi sebelum KLB, seperti negosiasi skema posisi kepengurusan yang menempatkan faksi M dan faksi A pada taraf yang akomodatif.

Sedangkan membaca pergerakan politik yang ada dengan melihat munculnya statemen kesiapan dari enam orang yang masuk wacana “MAS” Demokrat, maka usaha aklamasi dalam KLB akan semakin kuat karena diaspora faksi tersebut berkontribusi pada rapuhnya kekuatan besar dan lemahnya provokasi politik di internal Demokrat. Di sisi lain, faksi M cenderung merapat ke SBY.

Walhasil, dengan pemetaan seperti ini, KLB menjadi sebentuk kongres di luar kebiasaan yang tentu akan menciptakan model struktur kekuasaan yang sama sekali baru di dalam Partai Demokrat. Artinya, hal ini akan menggiring pada dua kemungkinan ekstrem sebagai sebuah healing path (jalur penyelamatan) ataupun disaster path (jalan kehancuran) bagi Demokrat jika polar-polar kekuatan politik yang ada tidak dinegosiasikan dengan baik. *

Arya Budi,

PENELITI DAN ANALIS POLITIK POL-TRACKING INSTITUTE

Sumber: http://koran.tempo.co/konten/2013/03/26/305014/Kongres-di-Luar-ke-Biasa-an-Partai-Demokrat