Mengalahkan Jokowi dan Prabowo, Bisakah?

MUNGKINKAH ada calon baru yang dalam masa dua bulan kampanye sanggup mengalahkan Jokowi dan Prabowo? Ini pertanyaan besar yang membuat kita semua seakan terkunci pada hanya dua pilihan. Partai politik gelisah. Sebagian menurunkan traget dari Capres menjadi Cawapres.

 Memang sampai dengan hari ini baru jokowi dan Prabowo yang sudah hampir pasti punya syarat administratif untuk mendaftar jadi Calon Presiden. Tapi apakah memang tidak bisa muncul calon ketiga? Bisakah calon ketiga mengalahkan mereka berdua? Jawabnya jelas: bisa dan peluang menang masih besar.  

Partai menengah sampai saat ini belum menentukan sikap. Mereka masih wait and see sambil melakukan psi-war di media. Sekali-kali mereka main mata dengan kedua kutub yang sedang gencar-gencarnya melakukan pendekatan untuk mewujudkan porosnya. Di sinilah sesungguhnya partai-partai menengah memiliki bargaining position yang tinggi, mereka akan menjadi penentu kemenangan sesungguhnya bagi siapapun kutub Capres yang akan mereka dukung.

Diantara partai tengah itu, Partai Demokrat memiliki perolehan terbesar, paling berpengalaman mengelola koalisi dan tentu bisa menggalang kerja-sama untuk membentuk poros baru. Penggalangan ini dengan cara memunculkan calon baru yang memiliki karakteristik unik sehingga bisa mengubah konstelasi pencalonan presiden secara drastis.  

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menyadari bahwa pemilih mencari harapan. Jokowi bukanlah gubernur yang sudah banyak karyanya, tapi dia adalah orang membawa harapan. Prabowo bukanlah mantan pejabat yang banyak karyanya juga, bahkan sering disebut ada catatan khusus dalam perjalanan kariernya dulu, tapi dia juga menawarkan harapan. Maka calon baru ini jangan ditonjolkan pengalamannya, karena pemilih bukan mencari orang paling berpengalaman. Pemilih sedang mencari orang yang bisa memberikan harapan, meneruskan kemajuan yang sudah diraih dan membawa Indonesia ke kondisi yang lebih baik. Kuncinya adalah menawarkan masa depan, menawarkan harapan.  

Langkah kedua adalah menyadari bahwa Jokowi dan Prabowo sudah berkampanye cukup lama karena itu elektabilitas mereka tinggi. Sehingga calon baru sudah pasti angkanya masih amat rendah pada saat ini. Jadi jangan cari figur dengan semata-mata melihat angka elektabilitas, tetapi cari figur alternatif yang karakteristiknya unik dan memiliki potensi perubahan elektabilitas (delta) yang tinggi. Calon dengan elektabilitas tinggi tetapi trend angkanya sudah stagnan (atau bahkan cenderung menurun) justru akan sulit untuk ditingkatkan dalam waktu dua bulan kampanye. Sebaliknya, calon yang memiliki daya tarik khusus dan karakter unik justru jauh lebih berpotensi melonjak dan menang.  

Langkah ketiga adalah mengejutkan semua pihak. Calon yang dimunculkan adalah figur yang tak diduga akan dicalonkan. Ia harus memiliki efek kejut yang dahsyat, yang bisa membelalakkan mata semua pihak. Ia menjadi simbolisasi Satrio Piningit yang disembunyikan sampai dengan menit-menit terakhir. Kejutan ini akan akan menjadi bahan pembicaraan positif di media dan di semua tempat, mulai dari meja makan keluarga, warung kopi, ibu-ibu pengajian, sampai dengan elit nasional dan bahkan dunia internasional.  

Untuk kesemua itu bisa terjadi jika figur yang dicalonkan punya karakteristik sebagai berikut:  

Pertama, orang baru. Calon ini harus menggambarkan kebaruan. Dia harus dipandang sebagai kontender Jokowi dan Prabowo yang juga menawarkan harapan baru. Faktor kebaruan memang sangat dibutuhkan agar menjadi daya tawar khusus buat para calon pemilih. Generasi muda cenderung tidak kenal masa lalu Prabowo dan tak bertanya tentang rencana kerja Jokowi. Dengan kebaruannya yang menarik dan mempesona maka calon ini akan bisa menyedot pendukung Jokowi dan Prabowo.

Kedua, TV-genik (mempesona di televisi). Waktu dua bulan tidak mungkin untuk kampanye berkeliling seluruh Indonesia. Survei nasional Poltracking Maret lalu menunjukkan bahwa TV merupakan media yang paling banyak dilihat oleh masyarakat (69.4%), disusul dengan media cetak (19.3%), internet (11,2%), dan radio (7.2%). Untuk meraup dukungan seluruh pemilih di Indonesia dalam jangka waktu yang singkat, televisi adalah satu-satunya jalan. Oleh karena itu, calon yang dimunculkan haruslah mempesona ketika tampil di televisi (TV-genik). Dia harus memiliki tampilan yang menarik dan tutur-kata simpatik. Bukan hanya menarik dalam bahasa lisan, bahasa tubuhnya juga harus memikat dan mudah disukai oleh publik. Pemilih perempuan dan pemilih muda dan pemula adalah kunci.  

Ketiga, mumpuni dan memiliki nilai pembeda. Calon ini harus menunjukkan ciri yang berbeda dengan Jokowi dan Prabowo. Baik latar belakang, penampilan, pemikiran bahkan ekspresinya harus memiliki nila berbeda dengan capres-capres yang selama ini sudah beredar. Indonesia bagian penting dari dunia karena itu calon ini harus bisa menunjukkan kompetensi kelas dunia tetapi memahami dan menjiwai Indonesia hingga ke akar rumputnya.

Keempat, bersih & tanpa beban masa lalu. Calon yang dimunculkan diakui sebagai orang berintegritas tinggi. Temuan survei nasional Poltracking bulan Maret lalu, karakter utama yang paling penting dimiliki oleh Capres adalah bersih dan jujur (55.2%), peduli dan dekat dengan rakyat (25%), tegas dan berani (9.8%), berpengalaman (4,2%), pintar dan visioner (2,4%). Media tidak akan mau ikut “menjual” calon baru bila ia bermasalah. Capres tak boleh membawa beban masalah, utama-nya KKN atau masalah-masalah kebijakan atau masalah keluarga. Media juga akan menelusur ke masa lalu jika ada kebijakan bermasalah, KKN apalagi urusan keluarga; itu semua bisa jadi bahan kampanye negatif yang sulit ditangkis dalam dua bulan.

Kelima, lengkap. Prabowo, memang rencana kerjanya “jelas”, tetapi track-recordnya sering dipertanyakan. Sementara Jokowi, memang memiliki integritas yang baik, tatapi rencana kerjanya tidak jelas. Calon yang baru ini haruslah komplit: memiliki interitasnya (track-record) yang diakui baik oleh publik dan memiliki rencana kerja yang jelas, yaitu melanjutkan kemajuan yang sudah diraih selama ini.  

Keenam, bersahabat. Calon yang dimunculkan harus memiliki ketegasan misi untuk mensejahterakan rakyat tetapi  tetap dipandang calon yang bersahabat pada dunia usaha. Ia harus berkomitmen untuk kelanjutan demokrasi sehingga dukungan dari rakyat bawah, kelas menengah, dunia usaha dan bahkan dunia internasional bisa mengalir dengan baik.

Mengacu pada karakter-karakter di atas, kita bisa menilai nama-nama yang selama ini dipertimbangkan sebagai Bakal Calon Presiden. Elit partai harus bersedia menilai figur yang ada dengan kriteria di atas. Lalu mau legowo untuk mengusung figur baru yang menghebohkan karena partai bersedia mengusung orang baru, bersih, mumpuni, berprestasi, mempesona dan bisa membanggakan.

Ini adalah kesempatan para pimpinan partai untuk membuat sejarah. Munculkan calon yang memiliki karakteristik diatas maka amat mungkin semesta akan mendukung dan orang baru ini –Sang Satrio Piningit- itu akan bisa memenangkan Pemilihan Presiden 2014

Ahmad T Wibowo

Peneliti Poltracking

Sumber : Jurnas, 8 Mei 2014