Menyongsong Suksesi dan Regenerasi Kepemimpinan Partai Golkar: Demokrasi atau Gerontokrasi?

(Rilis Hasil Survei Pakar dan Public Opinion Makers 3-8 November 2014)

JAKARTA – Poltracking merilis hasil Survei Pakar bertajuk “Menyongsong Suksesi dan Regenerasi Kepemimpinan Partai Golkar: Demokrasi atau Gerontokrasi? pada hari Kamis (13/11) di Hotel Bidakara. Survei Pakar dan Public Opinion Makers ini merupakan hasil penilaian juri penilai sebanyak 173 pakar dan pembuat opini publik di seluruh Indonesia terhadap pelembagaan partai dan kualitas personal Calon-Calon Ketua Umum Golkar. Seluruh kegiatan survei ini dilakukan pada tanggal 3-8 November 2014.

Isu-isu penting dalam tema pelembagaan partai di survei kali ini diperoleh Poltracking melalui focus group discussion (FGD) dan kajian yang relevan dalam topik organisasi kepartaian. Penilaian atas beberapa variabel survei dilakukan oleh pakar dengan kualifikasi bidang dan level kepakaran. Kualifikasi bidang adalah sosial, politik, dan humaniora. Sementara kualifikasi kepakaran adalah akademisi bergelar minimal master atau peneliti senior di sebuah lembaga riset yang fokus terhadap isu sosial, politik, dan humaniora. 

Dalam melakukan survei ini, Poltracking menggunakan metode uji kelayakan figur melalui tiga tingkatan penyaringan penting: (1) Uji kelayakan kandidat dilakukan melalui meta-analisis: analisis pemberitaan media, hasil survei, dan dokumentasi studi yang relevan (2) FGD untuk menganalisis lebih jauh nama-nama yang didapatkan dari hasil meta-analisis (3) Penilaian masing-masing figur terseleksi dilakukan oleh para pakar dan tokoh yang memiliki pengaruh opini di publik.

Hasil yang didapat dalam Survei Pakar/Public Opinion Makers untuk skor total, merupakan hasil penilaian setiap tokoh dari 10 aspek yang dinilai. Pertimbangan aspek yang dinilai disusun berdasarkan hasil survei maupun FGD. Kesepuluh aspek tersebut di antaranya, integritas, kompetensi dan kapabilitas, visi dan gagasan, komunikasi elit, komunikasi publik, akseptabilitas publik, pengalaman dan prestasi kepemimpinan, kemampuan memimpin organisasi kepartaian, kemampuan memimpin koalisi partai politik di pemerintahan, dan kemampuan memimpin pemerintahan dan negara.

Terkait pelembagaan partai, isu regenerasi (31.82%) menjadi hal terpenting selain akuntabilitas dan transparansi (34.85%). Di sisi lain, integritas dan rekam-jejak (39.23%) serta kompetensi dan kapasitas (23.08%) menjadi hal pokok yang harus dimiliki oleh pemimpin partai politik. 

Saat membedah Golkar, terdapat beberapa hal menarik untuk dicermati, pertama, terkait latar belakang pemimpin yang diharapkan memimpin Golkar, berturut-turut hasil tertingginya diperoleh kalangan profesional (31.54%) dan aktivis (29.23%). Kedua, usia ideal yang diharapkan memimpin Golkar berada di rentang usia 46-55 tahun (67.94%). Temuan yang mengemuka ini sebenarnya menegaskan tentang dua hal, yakni figur pemimpin yang diharapkan memiliki kebaruan dan regenerasi kepemimpinan menjadi niscaya di tengah kegagalan Golkar meraih kursi signifikan di Pemilu Legislatif maupun maju mengusung Capres dalam Pemilu Presiden kemarin.

Pada bagian lain, temuan dalam survei ini menunjukkan bahwa sebanyak 53% responden menginginkan Calon Ketua Umum (Caketum) Golkar memiliki integritas moral yang baik. Hasil ini memperkuat temuan sebelumnya dan relevan dengan keinginan publik yang berharap seluruh ketua umum partai berintegritas. Hal ini mengingat begitu banyaknya kader-kader partai yang terjerat beban masa lalu, mulai masalah moral, hukum, hingga secara spesifik terlibat korupsi. Selain masalah integritas, dukungan politik yang rendah (39%) merupakan salah satu faktor penghambat dalam diri Caketum Golkar maju berkontestasi. 

Sesuai dengan konteks permasalahan bangsa yang mengemuka dan aspirasi yang ada, maka sosok Hajriyanto Y Thohari membuktikan sebagai salah satu Caketum Golkar paling prospektif, karena pada aspek integritas, ia meraih skor tertinggi (6.59). Sementara, dalam aspek kompetensi dan kapabilitas, raihan skor antar figur cukup kompetitif. Nama-nama yang muncul di antaranya, Priyo Budi Santoso (6.53), Hajriyanto Thohari (6.38), Agung Laksono (6.08), dan MS. Hidayat (6.05).

Secara keseluruhan terdapat delapan (8) Caketum Golkar potensial dalam survei Poltracking kali ini. Sesuai dengan hasil rerata 10 aspek yang telah dielaborasi, hasilnya secara tiga (3) besar sebagai berikut; Priyo Budi Santoso (6.51), Hajriyanto Y Thohari (6.31), dan Agung Laksono (6.03). Sementara, di peringkat berikutnya, muncul MS. Hidayat (5.99), Agus Gumiwang Kartasasmita (5.80), Airlangga Hartarto (5.73), Aburizal Bakrie (5.61), dan Zainuddin Amali (4.98).

Selain temuan di atas, masih terdapat dua hasil menarik lainnya, yakni (1) figur yang paling layak direkomendasikan memimpin Golkar, yakni, Priyo Budi Santoso (19.05%), Agung Laksono (17.46), dan Hajriyanto Thohari (16.67%). Berikutnya (2) figur yang tidak layak direkomendasikan memimpin Golkar hasilnya terdapat hanya nama Aburizal Bakrie (52.03%) yang memperoleh nilai tertinggi dan terpaut sangat jauh dari figur-figur lainnya.

Akhir kata, Rilis Survei Pakar/Public Opinion Makers bertajuk “Menyongsong Suksesi dan Regenerasi Kepemimpinan Partai Golkar: Demokrasi atau Gerontokrasi? merupakan ikhtiar Poltracking sebagai lembaga riset dan survei politik untuk memberikan referensi mendalam bagi publik atas penilaian pelembagaan partai di Indonesia dan kualitas personal Caketum Golkar dari pandangan 173 pakar dan pembuat opini publik.

 

Direktur Eksekutif Poltracking

 

Hanta Yuda AR, MA