Nasdem Dikabarkan Tunjuk Mantan Napi Jadi Ketua DPW

OKEZONE.COM – Partai Nasional Demokrat dikabarkan bakal mengangkat Syahrial Oesman menjadi Ketua DPW Nasdem Sumatera Selatan. Padahal, Syahrial merupakan mantan pejabat yang pernah terjerat kasus korupsi.

Rencana pengangkatan ini tak pelak menuai dikritik dan menjadi contoh buruk rekrutmen kader, karena eks napi korupsi, dengan mudahnya mengisi posisi strategis di tubuh partai.

Manajer Riset Pol-Tracking Institute, Arya Budi, mengatakan, dalam rekrutmen kader, tentunya partai punya nalar sendiri. Misalnya, seperti pertimbangan basis massa, kekuatan logistik materi, atau kapasitas politik para calok kader. Namun seharusnya partai dalam melakukan rekrutmen kader paling tidak berdasarkan pada dua hal, yaitu kualitas dan integritas. “Tentu bila yang direkrut itu koruptor atau orang dengan rekam jejak buruk tidak masuk dalam kualifikasi ini,” ujarnya, Minggu (3/11/2013).

Bahkan, lanjut dia, partai sebenarnya punya tanggung jawab untuk mencetak kader. Sehingga partai mempunyai mekanisme kaderisasi untuk setiap anggota partai. Karena orang perlu internalisasi politik dari partai bersangkutan.

“Jika tidak, rekrutmen kader tanpa proses kaderisasi akan menjadi bumerang bagi partai, karena orang yang tiba-tiba ditempatkan dalam jabatan struktural strategis bisa punya potensi merusak kohesi dan konsolidasi internal partai,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Political Communication Institute, Heri Budianto, mengatakan, jika benar Nasdem bakal mengangkat Syahrial Oesman, yang notabene eks napi korupsi, menunjukan, rekrutmen kader partai yang buruk. Ini juga menggambarkan, parpol tidak mau mengkader orang dari nol atau dari bawah.

“Tapi hanya menerima calon jadi dan sudah punya nama di publik, bekas pejabat, dan punya uang. Aspek aspek kapasitas, kompetensi, kapabilitas dan integritas tidak dihiraukan,” katanya.

Menurut Heri, itu adalah potret buruk pangkaderan partai. Dan orientasinya hanya demi kekuasaan saja. “Inilah kelemahan paling mendasar hampir semua partai kita, ” kata dia.

Partai, kata Heri, tak mau susah payah mencetak kader. Parahnya lagi, tak mau mempertimbangkan jejak rekam kader. Padahal, rekan jejak seorang kader sangat diperlukan. Dan mestinya integritas menjadi hal utama. “Sulit sekali jika elite parpol memiliki rekam jejak yang buruk, sebab ini akan mempengaruhi kepemimpinannya dimasa yang akan datang,” katanya.

Dalam kaitan ini, dia melihat Nasdem, sebagai partai tidak peka terhadap aspirasi publik. Serta sengaja menutup mata dan membiarkan fenomena orang-orang lama dalam kancah politik nasional terus terjadi. Mestinya parpol melakukan seleksi ketika menentukan jajaran pengurusnya. “Dan memasang kriteria terbaik agar partai juga akan baik,” katanya.

Lontaran serupa juga disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (LIMA), Ray Rangkuti. Menurut dia, masuknya eks napi korupsi dalam tubuh partai, tak hanya merusak proses kaderisasi, tapi juga merusak penguatan demokrasi itu sendiri. Yang pasti ini menguatkan penilaian publik bahwa partai merupakan rumah politik, dimana para koruptor nyaman berdiam.

“Persoalan pemberantasan korupsi adalah persoalan membersihkan mesin produksinya. Dan mesin produksi terbesar para koruptor itu adalah partai politik,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Syahrial akan dilantik sebagai Ketua Nasdem Sumsel berbarengan dengan pembekalan caleg di provinsi tersebut pada 4 November 2013. (ful)

Sumber: http://pemilu.okezone.com/read/2013/11/03/568/891233/nasdem-dikabarkan-tunjuk-mantan-napi-jadi-ketua-dpw