Rilis Survei Poltracking Indonesia: Peta Elektabilitas Kandidat Gubernur & Preferensi Pemilih Pilkada Jawa Barat 2018

Survei Pilkada Jawa Barat (Jabar) ini dilaksanakan pada 10-15 November 2017 dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling. Jumlah sampel dalam survei ini adalah 1200 responden dengan margin of error +/- 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%. Sampel survei menjangkau 27 Kab/Kota Se-Jabar secara proporsional. Ini menjamin bahwa seluruh masyarakat pemilih Jabar terepresentasi sampelnya secara akurat. Metode pengumpulan data survei ini adalah responden terpilih diwawancara secara tatap muka menggunakan kuesioner oleh pewawancara yang telah dilatih. Setiap pewawancara bertugas mewawancarai 10 responden untuk setiap satu desa/kelurahan terpilih.

Maksud dan tujuan dari survei ini adalah untuk mengukur elektabilitas kandidat Calon Gubernur Jawa Barat, mengukur elektabilitas kandidat Calon Wakil Gubernur Jawa Barat, mengukur elektabilitas simulasi pasangan Calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Barat, mengukur preferensi masyarakat Jabar terkait karakter Calon Gubernur/Wakil Gubernur, mengukur partisipasi dan kemantapan pilihan masyarakat Jabar dalam Pilkada 2018, serta mengukur evaluasi kinerja pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Temuan Pokok Survei adalah sebagai berikut:

TEMUAN
1. Survei ini menemukan bahwa nama Ridwan Kamil masih menempati posisi teratas persentase elektabilitas sebagai Kandidat Calon Gubernur yang dipilih secara spontan (Pertanyaan Terbuka) dengan elektabilitas 24,2 %. Kemudian disusul Deddy Mizwar 7,1% dan Dedi Mulyadi dengan elektabilitas 4,3 %.
2. Jika melihat lebih jauh dari karakter kandidat, Ridwan Kamil merupakan figur kandidat yang paling dipersepsikan publik memiliki semua kualitas personal (Peduli dan perhatian, bersih dari korupsi, berprestasi, berani, mampu memimpin cerdas dan berpenampilan menarik). Sementara dalam aspek Religius (Alim), Ridwan Kamil (33.6%) unggul dari Deddy Mizwar (30.9%). Begitu juga dalam aspek Membela Umat Islam, Ridwan Kamil (27.3%) dan Deddy Mizwar (24.1%).
3. Dalam simulasi, hasil survei menujukkan bahwa dengan memasukkan nama-nama yang berputar dalam peta koalisi pencalonan kandidat wakil gubernur oleh partai-partai, maka Daniel Mutaqien cenderung unggul (dalam margin of error) sebagai kandidat wakil gubernur. Sebagai contoh, Daniel Mutaqien (10.6%) unggul dalam simulasi tiga kandidat wakil, diikuti Ahmad Syaikhu (8.2%), dan Puti Guntur Soekarno (5.4%).
4. Terkait sifat atau kriteria pemimpin, sifat merakyat dan jujur berintegritas menjadi acuan utama publik Jawa Barat untuk memilih pemimpin lima tahun ke depan. Dari hasil survei menunjukkan 20,3% publik menginginkan pemimpin yang memiliki sifat merakyat sebagai kiriteria utama. Kemudian sifat jujur atau berintegritas 13,6% dan memiliki pengalaman 12,3 %.
5. Terkait alasan, karakter merakyat, alim atau religius dan berpengalaman menjadi tiga alasan teratas publik Jawa Barat memilih figur pemimpin. Hasil survei menunjukkan bahwa 17.0% publik akan memilih figur dengan karakter merakyat. Kemudian karakter religius menjadi pertimbangan publik untuk memilih pemimpin dengan nilai 13.0%. Selanjutnya, 12.3% publik akan memilih karakter kandidat yang berpengalaman.
6. Survei ini menemukan bahwa pengaruh latar belakang agama seorang kandidat menjadi rujukan amat penting bagi pilihan publik Jawa Barat. Survei menunjukkan bahwa kandidat 67.0% publik memilih seorang kandidat atas dasar agama. Sedangkan pengaruh rekam jejak berada di angka 66.9%. Sementara itu, latar belakang asal daerah (36.8%), dan latar belakang suku kandidat (39.0%) tidak sekuat agama dan rekam jejak. Begitu juga dengan gender (48.9%) dan usia (46.5%).

ANALISIS TEMUAN
1. Survei ini menunjukkan bahwa Ridwan Kamil praktis unggul dalam semua simulasi elektabilitas kandidat calon gubernur tunggal (tidak  berpasangan), maupun dalam elektabilitas top of mind (pertanyaan terbuka), dimana angka tingkat keterpilihan Ridwan Kamil mempunyai jarak berkisar 20% dengan kandidat di bawahnya, Deddy Mizwar. Sebagai contoh, dalam simulasi 20 nama kandidat dengan pertanyaan semi terbuka, tingkat elektabilitas Ridwan Kamil (41.8%) adalah yang tertinggi, disusul Deddy Mizwar (18.0%), dan Abdullah Gymnastiar (8.6%).
2. Namun jika dua kandidat terkuat disimulasikan secara head-to-head, maka elektabilitas Ridwan Kamil (49.4%) unggul signifikan. Sementara Deddy Mizwar (28.8%) berada di posisi kedua dengan gap elektabilitas 20.6%. Hal ini menjelaskan bahwa kandidat lain yang terkuat setelah Ridwan Kamil adalah Deddy Mizwar.
3. Namun demikian, dalam simulasi memasukkan simulasi nama-nama yang berputar dalam peta koalisi pencalonan kandidat wakil gubernur oleh partai-partai, maka Daniel Mutaqien cenderung unggul (dalam margin of error) sebagai kandidat wakil gubernur. Sebagai contoh, Daniel Mutaqien (10.6%) unggul dalam simulasi 3 kandidat wakil gubernur, diikuti Ahmad Syaikhu (8.2%), dan Puti Guntur Soekarno (5.4%).
4. Survei ini menunjukkan bahwa pasangan kandidat Ridwan Kamil selalu unggul dalam semua simulasi antar kandidat berpasangan. Sebagai contoh, Dalam sebuah simulasi 3 pasangan kandidat, pasangan Ridwan Kamil-Daniel Mutaqien (37.0%) memperoleh elektabilitas tertinggi, disusul Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu (24.3%) dan Dedi Mulyadi-Puti Guntur Soekarno (7.0%). Sedangkan dalam 2 pasangan kandidat (head to head), Ridwan Kamil-Daniel Mutaqien (39.4%) memperoleh elektabilitas tertinggi dibandingkan pasangan Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu diangka 25.8%.
5. Namun demikian, dalam pembacaan data yang lebih analitik, survei ini menunjukkan bahwa kandidat calon wakil gubernur mampu memberikan insentif elektoral yang tidak sedikit. Berbeda dengan elektabilitas kandidat calon gubernur tunggal (tidak berpasangan) dimana jarak elektabilitas Ridwan Kamil dan Deddy Mizwar adalah 15-20 persen, dalam simulasi kandidat berpasangan jarak pasangan kandidat Ridwan Kamil dan pasangan kandidat Deddy Mizwar turun menjadi 10-15 persen. Sebagai contoh, dalam simulasi 3 pasangan kandidat, pasangan Ridwan Kamil-Daniel Mutaqien (37.0%) memperoleh elektabilitas tertinggi disusul Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu (24.3%) dan Dedi Mulyadi-Puti Guntur Soekarno (7.0%). Dua pasangan kandidat tertinggi terpaut gap elektabilitas di angka 12.7%.
6. Survei ini menemukan bahwa praktis Ridwan Kamil unggul pada semua pertanyaan uji karakter personal kandidat. Sebagai contoh, dari 5 nama kandidat calon Gubernur yang ditanyakan pada pemilih, Ridwan Kamil (42.7%) merupakan kandidat Gubernur yang dinilai pemilih paling Peduli dan Perhatian Pada Rakyat. Faktor lain yang seringkali juga menjadi penentu untuk mendapatkan dukungan signifikan pemilih ialah prestasi kepemimpinan. Pada aspek ini, pemilih menilai bahwa sosok Ridwan Kamil (49.1%) adalah kandidat Gubernur yang paling dianggap berprestasi, selanjutnya baru Deddy Mizwar (16.5%).
7. Namun demikian, hal penting yang harus dicatat adalah bahwa terdapat dua dimensi personal yang cukup kompetitif antara Ridwan Kamil dengan Deddy Mizwar dibandingkan dimensi lainnya. Ridwan Kamil lebih unggul dari Deddy Mizwar dari aspek Religius (Alim) (Ridwan Kamil 33.6% dan Deddy Mizwar 30.9%) dan aspek Membela Umat Islam (Ridwan Kamil 27.3% dan Deddy Mizwar 24.1%).
8. Survei ini menemukan bahwa merakyat (17.0%), religius (alim) (13.0%), dan berpengalaman (12.3%) menjadi basis pertimbangan utama pemilih dalam menentukan kandidat calon gubernur pilihannya.
9. Hal lain yang tak kalah penting, survei ini menunjukkan bahwa pengaruh latar belakang agama kandidat berada di angka 67.0%. Sedangkan pengaruh rekam jejak berada di angka 66.9%. Sementara itu, latar belakang asal daerah (36.8%), dan latar belakang suku kandidat (39.0%) tidak sekuat agama dan rekam jejak. Begitu juga dengan gender (48.9%) dan usia (46.5%) yang tidak setinggi pengaruh agama dan rekam jejak mesikupun angkanya juga mendekati 50%.
10. Survei ini menemukan bahwa sebanyak 61.3% publik mengetahui akan ada pemilihan langsung Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat pada Juni 2018 mendatang. Dan sebanyak 78.5% berencana akan menggunakan hak pilih dengan mencoblos pada pelaksanaan Pilkada Provinsi Jawa Barat 2018 nanti.
11. Namun demikian, sebanyak 47.0% publik menyatakan masih mungkin berubah dengan melihat program kerja yang menguntungkan pemilih (28.5%). Terkait dengan hal ini, survei ini menunjukkan bahwa sebanyak 21.5% pemilih baru memiliki kemantapan terhadap pilihannya setelah penetapan resmi kandidat.
12. Terkait dengan kepuasan publik terhadap inkamben pemerintahan di Jawa Barat, survei ini menunjukan sebanyak 55.8% publik mengaku puas terhadap kinerja pemerintah Provinsi Jawa Barat dibawah kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar.
13. Jika diturunkan, publik 57.1% menyatakan puas dengan kinerja Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, sedangkan dengan Wakil Gubernur Deddy Mizwar (56.5%) (gabungan sangat puas dan cukup puas). Secara kuantitatif tingkat penilaian ini tidak terlalu tinggi karena di bawah 60 persen.
14. Beberapa hal yang menjelaskan angka kepuasan ini adalah sebanyak 61% publik merasa puas terhadap kinerja Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menangani persoalan Meningkatkan Kegiatan Keagamaan (Pengajian, Sholat Berjamaah, Dll) dan Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama (61%). Sebaliknya, pengangguran dan harga kebutuhan pokok yang belum terkendali adalah bidang kerja dengan tingkat ketidakpuasan di atas 50%.

Tim Riset Poltracking Indonesia
Faisal A. Kamil (087877855319)
M. Iqbal Themi (082306633022)

 

Lihat: Foto Rilis Survei