Riset Kandidat Potensial Dari Daerah

Survei ini dilaksanakan selama Januari-April 2013, melalui serangkaian metode dan melibatkan opinion leaders/expert seperti, para akademisi, pakar daerah, politisi senior, tokoh pemuda/mahasiswa, jurnalis/tokoh media, Pimpinan LSM/NGO, tokoh budaya/masyarakat, dan pollster/konsultan/pengamat politik. Proses penarikan kandidat dimulai dari daftar figur yang pernah memimpin daerah (gubernur/bupati/walikota) selama minimal separuh periode masa jabatan 5 tahun sejak otonomi daerah diberlakukan (2001). Dari daftar itu diseleksi 100 kepala daerah terbaik (berprestasi) melalui metode meta-analisis, dari 100 nama diseleksi 14 terbaik (memiliki potensi leadership skill) melalui metode FGD, 14 terbaik lalu dinilai 100 juri (opinion leaders) melalui wawancara langsung/tidak langsung pengisian kuesioner. Ada 10 aspek yang dinilai oleh para Juri: a) aspek integritas; b) visioner; c) leadership skill; d) intelektualitas/gagasan; e) aspiratif/responsif; f) pengalaman prestatif; g) keberanian memutuskan; h) komunikasi publik; i) penerimaan partai; j) penerimaan publik.

Hasilnya, dari total skor 10 aspek yang dinilai oleh para juri, Joko Widodo (82,54), Tri Rismaharini (76,33), Fadel Muhammad (70,38), Syahrul Yasin Limpo (70,31), Isran Noor (70,14), dan Gamawan Fauzi (70,00) adalah enam figur dengan bobot nilai tertinggi (skor diatas 70.00) secara berurutan. Secara kebetulan keenam figur tersebut merupakan kader tiga partai terbesar: PDIP (Joko Widodo dan Tri Rismaharini); Golkar (Fadel Muhammad dan Syahrul Yasin Limpo); dan Demokrat (Isran Noor dan Gamawan Fauzi). Keenam nama ini dinilai paling layak dan paling direkomendasikan. Joko Widodo dan Tri Rismaharini unggul dihampir semua aspek. Fadel Muhammad, Syahrul Yasin Limpo, dan Isran Noor memiliki keunggulan di berbagai aspek diantaranya visioner, intelektualitas, leadership skill, keberanian mengambil keputusan, responsif/aspiratif, dan skil komunikasi politik.

Temuan menarik jika dilakukan tabulasi silang beberapa aspek ada berapa figur yang cukup unggul dan berada pada titik paling optimal (tiga tertinggi). Syahrul Yasin Limpo titik teroptimal pada persilangan dimensi intelektualitas (74.38) dan skil komunikasi (74.16), Isran Noor memiliki titik terpuncak di persilangan dimensi keberanian mengambil keputusan (73.66) dan responsive/aspiratif (71.90), Fadel Muhammad memiliki potensi optimal pada persilangan aspek visioner (72.68) dan leadership skill (70.34), dan Gamawan Fauzi optimal pada persilangan aspek integritas (69.66) dan pengalaman (73.38). Sementara Joko Widodo dan Tri Rismaharini optimal di seluruh aspek. Temuan menarik lainnya, keenam figur ini merepresentasikan pemimpin daerah dari wilayah barat Indonesia (Joko Widodo, Tri Rismaharini, Gamawan Fauzi), dan dari wilayah timur Indonesia (Isran Noor, Syahrul Yasin Limpo, Fadel Muhammad).

Tingginya skor pada figur-figur ini juga dipengaruhi oleh akses dan kiprah mereka di level nasional. Joko Widodo yang berangkat dari Solo sukses menjadi Gubernur Ibukota Indonesia, Tri Rismaharini selain Walikota Surabaya juga menjabat Wakil Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Se-Indonesia (APEKSI), Syahrul Yasin Limpo selain Gubernur Sulawesi Selatan dua periode juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Provinsi Se-Indonesia, Isran Noor selain Bupati Kutai Timur dua periode juga menjabat posisi strategis sebagai Ketua Umum Asosiasi Pemerintah Kabupaten Se-Indonesia (APKASI), Sementara Fadel Muhammad dan Gamawan Fauzi selain berpengalaman menjadi Gubernur Gorontalo dua periode dan Gubernur Sumatera Barat mereka pernah mejabat menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II. Artinya para figur dari daerah ini selain berprestasi memimpin daerah, juga terbukti kemampuan leadershipnya di level nasional.

Jika menggunakan standard ketercukupan skor 70,00, maka kesimpulan dalam survey ini ditemukan enam figur daerah (Joko Widodo, Tri Rismaharini, Fadel Muhammad, Syahrul Yasin Limpo, Isran Noor, dan Gamawan Fauzi) yang paling potensial dan memiliki kapasitas dalam kepemimpinan nasional. Mereka layak dipertimbangkan sebagai menu tambahan referensi alternatif kepada publik dan partai politik dalam proses penjajakan kandidat presiden / wakil presiden 2014, sekaligus memberikan perspektif baru dalam memandang sirkulasi kepemimpinan Indonesia ke depan melalui pemimpin yang telah teruji dan terbukti berhasil memimpin daerah. Kerena itu, untuk mendorong munculnya figur daerah yang potensial itu sebagai kandidat alternatif, maka partai politik perlu didorong untuk menyelenggarakan konvensi kandidasi presiden. Figur alternatif berkualitas sangat diperlukan agar publik dapat menikmati menu terbaik dari pergelaran hajatan demokrasi lima tahunan ini.

Download dokumen (format: pdf).