Survei Poltracking: Mayoritas Pemilih Jabar Rasional

Jakarta – Survei Poltracking Indonesia menunjukkan bahwa mayoritas pemilih Jawa Barat adalah pemilih rasional. Berdasarkan hasil survei terkait elektabilitas kandidat calon gubernur Jabar, preferensi pilihan pemilih lebih pada rekam jejak, kompetensi dan visi-misi serta program kandidat.

Survei elektabilitas ini dilaksankan pada 10-15 November 2017 dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling. Jumlah sampel dalam survei ini adalah 1200 responden dengan margin of error +/- 2,8 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel survei menjangkau 27 kabupaten/kota se-Jabar secara proporsional.

“Mayoritas pemilih Jabar itu rasional. Berdasarkan hasil survei, tipe pemilih rasional sebanyak 38,4 persen. Sementara tipe pemilih sosiologis sebanyak 28,7 persen dan tipe pemilih psikologis sebanyak 13,2 persen. Sisanya, responden tidak tahu atau tidak menjawab,” ujar Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda AR saat rilis survei bertajuk “Peta Elektabilitas Kandidat Gubernur dan Preferensi Pemilih Pilkada Jabar 2018” di Hotel Sari Pan Pacifik, Jalan M.H Thamrin, Menteng, Jakarta, Selasa (6/12).

Tipe pemilih rasional, kata dia terungkap dari preferensi pilihan pemilih, yakni sebanyak 23,8 persen pemilih memilih kandidat berdasarkan kinerja dan pengalaman kandidat, sebanyak 7,5 persen berdasarkan kualitas dan kompetensi kandidat, dan sebanyak 7,1 persen yang memilih berdasarkan visi-misi dan program kandidat.

Sementara tipe pemilih sosiologis, menurut Hanta memilih berdasarkan agama yang dianut kandidat sebanyak 22,1 persen pemilih, berdasarkan asal suku bangsa atau etnis kandidat 3,5 persen dan asal daerah 3,1 persen.

“Nah, tipe pemilih psikologis berarti memilih kandidat karena alasan karakter personal kandidat sebanyak 10,3 persen, jenis kelamin kandidat 1,9 persen, usai kandidat sebanyak 0,9 persen dan penampilan fisik kandidat sebanyak 0,1 persen,” pungkas dia.

Meskipun demikian, kata Hanta, survei ini menunjukkan bahwa pengaruh latar belakang agama kandidat berada di angka 67,0 persen, kemudian disusul pengaruh rekam jejak kandidat 66,9 persen, pengaruh latar belakang asal daerah 36,8 persen, pengaruh suku kandidat 39,0 persen, gender 48,9 persen dan usia kandidat 46,5 persen.

“Jadi faktor agama dan rekam jejak kandidat gubernur sangat menentukan pilihan pemilih di Jabar, angkanya di atas 50 persen,” tandas dia.

Lebih lanjut, Hanta mengatakan bahwa alasan pemilih memilih kandidat calon gubernur di Jabar adalah kandidat yang merakyat, alim (religius), berpengalaman, kreatif, berwibawa, bijaksana, berprestasi dan jujur atau berintegritas.

“Menurut publik, media massa sangat berpengaruh dalam membentuk persepsi pemilih terhadap kandidat gubernur dan wakil gubernur di mana pengaruhnya di angka 51,7 persen, sementara media sosial di angka 37,4 persen. Sosialisasi dari rumah ke rumah, dengan angka 56,0 persen, mempengaruhi publik dalam menentukan pilihan,” pungkas dia.


sumber: http://www.beritasatu.com/politik/466926-survei-poltracking-mayoritas-pemilih-jabar-rasional.html