Informasi lebih lanjut hubungi 0811914812 / 081294084328

News & Blog

Sodorkan Capres Muda, Tingkat Pemilih Tinggi

News & Blog

TEMPO.CO – Peneliti Institut Riset Indonesia (INSIS), Mochtar W. Oetomo, mengatakan partisipasi masyarakat dalam pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2014 akan meningkat jika partai politik mengusung tokoh muda. Jika ada sodoran capres kepada para tokoh di bawah usia 55 tahun, hak pilih yang dipakai publik 81,86 persen.
“Jika usia tokoh calon presiden di atas 55 tahun, hanya 63,36 persen masyarakat yang akan mengikuti pemilu,” kata Mochtar saat memaparkan risetnya di Senayan, Ahad, 12 Januari 2014.
Gubernur DKI Joko Widodo menjadi figur dengan popularitas yang paling mencuat. Pada 2012, tidak banyak yang mengenal Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo. “Namun di 2013 popularitasnya melejit menjadi 83,55 persen,” kata dia. Di bawah Jokowi ada Priyo Budi Santoso dengan 78,59 persen. Berikutnya ada Hary Tanoesoedibjo dengan 75,79 persen. Sedangkan Puan Maharani berada di urutan enam dengan 68,59 persen.
Alasan responden memilih tokoh muda untuk memberikan kesempatan kepada tokoh muda (20 persen), tak mudah terpengaruh (10,37 persen), dan lebih energik (8,69 persen).
Sedangkan mereka yang berusia di atas 55 tahun memiliki tingkat popularitas yang lebih tinggi. Di urutan teratas, sebanyak 98,59 persen responden mengenal Megawati. Prabowo sebanyak 97,85 persen dan Rhoma Irama 97,10 persen. Namun, tingkat popularitas mereka tak berbanding lurus mempengaruhi publik memberikan hak suaranya. “Rakyat mengalami kejumudan jika calonnya itu-itu saja,” kata dia.
Pengamat politik dari Universitas Al Azhar, Ziyad Falahi, mengatakan kini pengetahuan politik kader muda bangsa justru dikebiri. Melalui pendidikan di sekolah menengah kejuruan, kata dia, pemerintah ingin mendisiplinkan kawula muda agar tak berontak. “Sama artinya pemerintah memberikan doktrin jika tak menjadi buruh adalah dosa besar bagi pemuda,” kata dia. Politisasi pendidikan inilah yang membuat anak muda lebih memilih bungkam. “Padahal, Indonesia di awal zaman adalah medan pertarungan ideologis.”
Survei INSIS dilakukan 4 Desember 2013 sampai 8 Januari 2014 di 34 provinsi seluruh Indonesia. Metodologi yang dipakai rambang berjenjang (multistage random sampling). Jumlah responden 1.070 orang. Ambang kesalahan (margin of error) ada pada kisaran 3 persen dengan tingkat kepercayaan sebesar 95 persen. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka dengan pedoman kuesioner.
Berikut ini persentase pemilih dari tiap pemilu:

  • 1977: 96,52 persen
  • 1982: 96,47 persen
  • 1987: 96,43 persen
  • 1992: 96,06 persen
  • 1997: 93,55 persen
  • 1999: 92,74 persen
  • 2004: 84,07 persen
  • 2009: 79,00 persen

Sedangkan untuk pilpres:
 

  • 2004: 78 persen
  • 2009: 72,10 persen

 
Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/01/12/078544148/Sodorkan-Capres-Muda-Tingkat-Pemilih-Tinggi

Leave a Reply

Your email address will not be published.

We take processes apart, rethink, rebuild, and deliver them back working smarter than ever before.