Informasi lebih lanjut hubungi 0811914812 / 081294084328

News & Blog

Faksionalisme Golkar, Benih Konflik dan Dendam

News & Blog

INILAHCOM  – Faksionalisme dalam tubuh Partai Golkar bagai bara dalam sekam. Setiap kali hal itu meletup menjadi percik api yang mencekam: Golkar seolah tak bisa lepas dari konflik yang mengeram. Adakah ini sebagai benih karma dan dendam?

Sampai hari ini, Partai Golkar dihadapkan pada potensi perpecahan serius menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional IX yang siap diselenggarakan di Bali. Jika faksionalisme ini terus berlaku, ada kemungkinan pasca Munas Bali, terbentuk partai baru apabila Golkar tak bisa mengatasi gesekan antar-faksi di partai tersebut. Bagi Golkar, seakan ada tradisi faksionalisme yang berpecah belah sejak reformasi bergulir di negeri ini.

Pengamat politik dari Poltracking Institute, Hanta Yudha AR mencatat, sejarah pendirian partai baru dari “rahim” Partai Golkar terjadi sejak keran demokrasi terbuka di negeri ini, pada awal era reformasi. Tahun 1999, dua partai baru peserta pemilu, yakni Partai Kedaulatan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan Partai MKGR, adalah partai pecahan Partai Golkar.

PKPI didirikan pada 15 Januari 1999 yang dimotori oleh para mantan politisi Partai Golkar, yakni Edi Sudrajat dan Hayono Isman. Sementara itu, Partai MKGR didirikan pada 27 Mei 1998 sebagai kekecewaan ormas pendiri Golkar itu terhadap haluan “Partai Beringin” ketika itu.

Dalam Pemilu 2004, Munas Golkar juga menghasilkan partai peserta pemilu baru, yakni Partai Karya Peduli Bangsa yang didirikan pada 9 September 2002. PKPB bahkan mendeklarasikan putri Presiden Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau Mbak Tutut, sebagai calon presiden.

Selain itu, pelaksanaan konvensi calon presiden Partai Golkar pada tahun 2004 telah melahirkan dua partai baru yang kemudian menjadi peserta Pemilu 2009, yakni Partai Hanura dan Partai Gerindra. Wiranto mendirikan Partai Hanura dan Prabowo Subianto mendirikan Gerindra. Tak berhenti di situ, pada Munas beringin 2011, Golkar juga melahirkan Partai Nasdem dengan Surya Paloh sebagai tokoh pentingnya.

Setiap faksi terbukti mampu berdiri mandiri dan memiliki basis dukungan yang nyata di daerah. Pimpinan faksi bahkan memiliki kemampuan dana dan jaringan yang kuat yang membuat mereka bisa lebih mudah membentuk partai sendiri setelah tujuannya tak tercapai.

Untuk saat ini, Hanta Yudha memaparkan, setidaknya ada tiga faksi yang masih eksis di Golkar. Faksi pertama adalah faksi struktural pimpinan Aburizal Bakrie yang memang Ketua Umum Partai Golkar.

Sedangkan di luar struktural, masih ada dua faksi lain, yang menariknya pernah bersaing untuk menjadi ketua umum Partai Golkar pada 2004 silam. Dua faksi itu adalah faksi semi struktural pimpinan Akbar Tandjung yang juga Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar dan faksi kultural pimpinan mantan ketua umum Jusuf Kalla.

Apabila ketiga faksi tidak bisa disatukan, Hanta memperkirakan Golkar akan kehilangan “gigi” pada pelaksanaan pemilihan presiden dan legislatif yang dilaksanakan secara serentak pada 2019 mendatang.

Bahwa meramalkan Golkar pada 2019 bakal ambyar dan habis terbakar, jelas tak masuk akal. Namun membayangkan Golkar makin lumpuh, kalau pun tak total luruh, jelas memiliki rasionalitas politik sebab beringin sudah tak rindang lagi, penuh intrik dan faksionalisme yang berduri. Tanpa islah dan konsolidasi seluruh faksi, maka pada Munas Bali kali ini, Golkar bisa terkapar oleh konflik dan perpecahan yang sudah diprediksi oleh parpol-parpol pesaingnya yang melangkah semakin pasti.

Para elite Beringin hapal benar adagium bahwa dalam politik, hanya kepentingan yang abadi, dan perpecahan Golkar untuk sebagian akibat pertarungan kepentingan itu sendiri.

Minggu, 30 November 2014

Sumber: http://web.inilah.com/read/detail/2158688/faksionalisme-golkar-benih-konflik-dan-dendam#.VHwka9QggW4

Leave a Reply

Your email address will not be published.

We take processes apart, rethink, rebuild, and deliver them back working smarter than ever before.