TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia, Hanta Yuda menantang Munas Golkar kali ini terlepas dari bayang-bayang istana. Dia menantang Golkar berani memilih ketua umum tanpa tergantung kemana arah bandul istana.
“Sejak Munas Golkar 1998, kita tidak bisa menyangkal bahwa pengaruh eksternal kekuasaan sangat besar. Siapa yang menjadi ketum Golkar, sangat ditentukan oleh faktor di luar Golkar itu sendiri,” ujar Hanta dalam acara diskusi bertajuk “Harapan & Tantangan Partai Golkar Pada Munas 2019” yang digelar di Gado-gado Boplo, Cikini, Jakarta Pusat pada Sabtu, 30 November 2019.
–– ADVERTISEMENT ––
Hanta berharap, Munas 2019 ini, Golkar bisa keluar dari kebiasaan lama itu dan menjadi partai yang mandiri serta otonom. “Ini tantangan, siapa pun, yang penting pilihan Golkar. Bukan menurut sinyal dari luar,” ujar dia.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti menilai, suara pemerintah dalam hal ini presiden belum memperlihatkan kencenderungan kepada calon tertentu. “Biasanya last munite itu terlihat,” ujar Rangkuti di lokasi yang sama.
Belakangan beredar isu, tiga menteri di kabinet Jokowi turut membantu pemenangan Airlangga Hartarto. Namun, isu itu dibantah istana.
“Tidak ada campur tangan dari Istana. Presiden Jokowi selalu mengatakan Istana netral terhadap semua aktivitas partai politik,” kata Jubir Istana Kepresidenan, Fadjroel Rachman di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 29 November 2019.
sumber: https://nasional.tempo.co/read/1278576/golkar-ditantang-tak-ikuti-bandul-istana-tentukan-ketua-umum/full&view=ok