Informasi lebih lanjut hubungi 0811914812 / 081294084328

News & Blog

Mutu Calon Ketua Umum Golkar Dinilai Pas-pasan

News & Blog

TEMPO.CO – Peneliti senior dari lembaga survei Poltracking, Agung Baskoro, mengatakan bahwa calon-calon ketua umum Partai Golkar yang ada sekarang tidak memuaskan. “Mengacu pada pandangan publik, nilai mereka pas-pasan,” ujar Agung saat ditemui pemaparan survei regenerasi Partai Golkar, Kamis, 13 November 2014.

Dalam waktu dekat, partai berlambang pohon beringin itu akan menggelar musyawarah nasional yang direncanakan berlangsung di awal 2015. Munas tersebut diprediksi akan menjadi penentuan siapa saja yang akan bersaing di pemilihan ketua umum Partai Golkar. (Baca: Ical Masih Nafsu Berebut Ketua Umum Golkar)

Sejauh ini ada delapan figur yang disebut sebagai calon ketua umum Partai Golkar. Mereka adalah inkumben Aburizal Bakrie, Priyo Budi Santoso, Agung Laksono, M.S. Hidayat, Agus Gumiwang Kartasasmita, Airlangga Hartanto, Hajriyanto Tohari, dan Zainudin Amali.

Menurut Abas, kedelapan figur tersebut pantas disebut pas-pasan karena lebih kerap mementingkan kepentingan politik dibanding memperjuangkan hal yang berpengaruh langsung pada publik. Selain itu, karena hasil penelitian Poltracking menunjukkan kedelapannya hanya mendapat skor antara 5-6 dari rentang nilai 1-10.

Berdasarkan data yang diterima Tempo, calon ketua umum yang memperoleh nilai tertinggi adalah Priyo Budi Santoso. Ia memperoleh nilai 6,51. Nilai terendah diperoleh Zainuddin Amali dengan skor 4,98. (Baca: Jelang Rapimnas, Pengurus GolkarAkan Dikarantina)

Priyo memperoleh nilai tertinggi karena mengungguli calon-calon lainnya pada sembilan aspek yang diujikan. Ia unggul pada aspek kompetensi, visi-gagasan, komunikasi elite, komunikasi publik, akseptabilitas publik, pengalaman, kemampuan memimpin partai, kemampuan memimpin koalisi, dan kemampuan memimpin pemerintahan.

Dalam melakukan penelitian ini, Poltracking menggunakan metode focus group discussion serta meta analisis yang melibatkan 173 pakar akademikus di bidang sosial politik dan humaniora. Meta analisis digunakan untuk mendapatkan kelayakan kandidat sementara FGD digunakan untuk menganalisis nama-nama yang didapat dari meta analisis.

Kamis, 13 November 2014

Sumber: http://www.tempo.co/read/news/2014/11/13/078621677/Mutu-Calon-Ketua-Umum-Golkar-Dinilai-Pas-pasan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

We take processes apart, rethink, rebuild, and deliver them back working smarter than ever before.