Informasi lebih lanjut hubungi 0811914812 / 081294084328

News & Blog

Dari Balai Kota Melenggang ke Istana?

News & Blog

HARIANSIB.CO – Joko Widodo, pria sederhana yang tengah menjadi tokoh paling beken di blantika politik Indonesia ini, akhirnya diberi mandat oleh partainya, PDI Perjuangan untuk maju dalam pencalonan presiden pada Pemilihan Presiden 2014.

Mandat tersebut sekaligus memuluskan jalannya guna melenggang ke istana kepresidenan.

Mantan presiden Megawati Sukarnoputri yang adalah Ketua Umum PDIP selama ini membuat seluruh negeri bertanya-tanya, apakah ia akan mencalonkan gubernur DKI Jakarta tersebut. Maka mandat dari PDIP ini sekaligus menghapus rumor tentang siapakah calon presiden dari partai berlambang kepala banteng untuk Pilpres 2014.

Bahwa Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, sangat populer di jagat politik Indonesia saat ini, tak terbantahkan lagi. Berbagai jajak pendapat publik menunjukkan bahwa pejabat yang suka bekerja keras ini jauh melampaui para kandidat calon presiden lainnya, dalam menghadapi pemilihan pada 9 Juli mendatang.

Jokowi, 52 tahun, saat ini menikmati dukungan besar dalam berbagai survei opini publik atas para saingannya Letnan Jenderal (Purn) Prabowo Subianto dan konglomerat Aburizal Bakrie dalam persaingan menuju kursi RI satu.

Hanya dalam waktu satu tahun setelah menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia meraih popularitas nasional berkat gayanya yang sederhana. Meski pendekatannya melintasi kelas sosial, tapi secara khusus ia mendapat dukungan kuat di antara orang miskin dan kelas menengah baru yang jumlahnya berkembang pesat di Indonesia.

Tahun 2012, Jokowi mencetak kemenangan dalam pemilihan gubernur Jakarta, mengalahkan incumbent Fauzi Bowo, lewat strategi kampanye yang banyak menggunakan sosial media. Dia berhasil menyentuh hati para pemilih Indonesia, antara lain berkat kerja “blusukan” yang dilakukannya hampir setiap hari ke kawasan miskin ibu kota.

Kemenangan Jokowi yang sederhana atas incumbent kaya dalam pemilihan gubernur Jakarta menandai sebuah pergeseran penting nilai-nilai politik Indonesia, yang sebelumnya hanya menyaksikan berkuasanya militer dan elit politik mapan.

Terkait dengan pencalonan Jokowi, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Suryadharma Ali mengapresiasi langkah Megawati tersebut. “Mudah-mudahan beliau (Jokowi) sukses,” katanya.

Namun Suryadharma yakin, tidak akan ada konstituen PPP yang akan lari ke PDIP pasca-penetapan Jokowi sebagai capres. Pasalnya, PDI-P dan PPP memiliki konstituen yang berbeda. Sehingga pencalonan Jokowi sebagai presiden tidak akan terlalu mengganggu ceruk konstituen partainya. “Jadi kita masing-masing sudah punya kolam ikan,” ujarnya.

Menurut Menteri Agama RI itu, PPP memanfaatkan jaringannya untuk menarik suara pemilih muda. Konstituen anak muda partainya banyak terkonsentrasi di pondok pesantren dan madrasah. “PPP bukan partai seperti dulu lagi yang disebut partai orangtua, karena sekarang 80 persen, kita punya pengurus anak muda,” katanya.

Sementara itu Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Rajasa merasa tertantang dengan pendeklarasian Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo sebagai calon presiden dari PDIP, meski dia menilai langkah tersebut sangat bagus lantaran semua partai politik kini telah mendeklarasikan para calon presidennya.

Hatta mengaku hingga saat ini PAN belum membicarakan koalisi dengan partai manapun termasuk PDIP. Namun, kemungkinan adanya koalisi dengan partai lain akan dilakukan setelah melihat hasil pemilihan legislatif mendatang. “Belum bicara sampai ke koalisi walaupun komunikasi tentu berjalan. Hampir semua parpol melakukan komunikasi politik, tapi nanti saya kira setelah pileg akan terlihat,” ujarnya.

Bagi Partai Golkar, deklarasi Gubernur DKI Jakarta Jokowi menjadi calon presiden dari PDIP, memperjelas peta perpolitikan menjelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden 2014. “Tidak seperti sebelumnya, kita hanya bisa saling meraba dan menduga siapa capres PDIP sebenarnya, apakah Jokowi ataukah Ibu Megawati,” kata Ketua DPP Partai Golkar Hajriyanto Y Thohari.

Dia berpendapat, kini peta perpolitikan kian pasti, jelas, dan terang benderang. Pencapresan Jokowi menjadi informasi bagi Golkar untuk segera merumuskan taktik dan strategi yang harus ditempuh untuk mampu bertahan dan menang dalam Pileg dan Pilpres 2014 nanti.

Meskipun demikian, dia mengaku Golkar tidak terpengaruh untuk tergesa-gesa mengubah keputusan politiknya yang sudah diambil selama ini. Golkar juga saat ini belum memikirkan perihal koalisi dengan PDIP atau Jokowi.

“Saat ini Golkar berkonsentrasi pada pemenangan Pileg 9 April 2014. Golkar tetap percaya diri. Sekali layar terkembang pantang surut ke belakang,” ujar Hajriyanto.

Menyehatkan demokrasi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menanggapi positif pencapresan Jokowi oleh PDIP karena setiap partai peserta pemilu memang mempunyai hak yang sama untuk mengusulkan capresnya. Namun, Gerindra sangat memperhatikan kebutuhan kepemimpinan macam apa yang diperlukan untuk setiap keadaan bangsa ini masalah dan waktu yang tepat.

“Gerindra sangat yakin dan tahu persis untuk situasi Indonesia saat ini yang mengalami degadrasi di segala lini, dibutuhkan pemimpin yang tegas, berwawasan dunia dan berorientasi pada rakyat. Dan semua kualitas itu ada pada calon kami yaitu Prabowo Subianto,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Aryo Djojohadikusumo.

Ditetapkannya Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo sebagai capres dinilai organisasi sosial keagamaan, PP Muhammadyah akan semakin menyehatkan kehidupan demokrasi di negeri ini.

Pasalnya, menurut Bendahara Umum PP Muhammadyah, Anwar Abbas, energi politik tidak lagi terkuras untuk membicarakan hal-hal yang masih bersifat spekulatif. Hal itu tidak menyehatkan bagi kehidupan politik itu sendiri.

“Dengan adanya kepastian itu berarti energi yang ada sudah dapat diarahkan untuk memilih calon-calon terbaik di antara calon-calon yang ada. Karena calon-calon presidennya sudah jelas, maka rakyat tinggal dicerdaskan agar dapat memilih presiden yang mampu memecahkan masalah-masalah yang sedang dan akan dihadapi bangsa,” katanya.

Pemimpin Indonesia ke depan, menurut Anwar, diharapkan mampu menciptakan masa depan Indonesia yang kuat, di mana rakyat hidup dengan penuh kesejahteraan dan berkeadilan, serta rukun dan damai.

Pencalonan Gubernur DKI Jakarta Jokowi sebagai capres, ternyata tidak cuma menjadi sorotan media domestik, tetapi juga pemberitaan di media mancanegara. Majalah kenamaan asal Amerika Serikat (AS), Time menurunkan pemberitaan tentang majunya Jokowi sebagai capres dalam Pemilu 2014 mendatang.

Dengan judul yang meyakinkan kemenangan dari seorang Jokowi, “Barely a year in office, and he could win by a landslide” (“Kurang lebih satu tahun berkantor (menjadi Gubernur Jakarta, dia (Jokowi) akan mampu menang telak”) Time menilai Jokowi sebagai capres cemerlang di bursa pencalonan presiden negara terbesar di wilayah Asia Tenggara. Dengan reputasi mulus Jokowi, pemenang Pilkada DKI Jakarta 2012 itu, bakal menang telak menundukkan capres-capres dari parpol lainnya. “Jokowi merupakan pemimpin tangguh dengan reputasi bebas korupsi dan diyakini menang telak di antara 30 sampai 40 persen pemilih,” tulis majalah tersebut.

Tentang pendamping Jokowi nantinya, Wakil Presiden RI periode 2004-2009 Jusuf Kalla, dinilai cocok karena JK unggul dalam leadership (kepemimpinan) dan pengambilan keputusan, sehingga dapat melengkapi kekurangan Jokowi.

Pengamat politik Hanta Yuda berpendapat, akan banyak partai politik yang menginginkan Jokowi. Untuk itu, partai politik harus pintar membangun koalisi. Dia memprediksi, nantinya akan ada 3-4 pasangan capres dan cawapres 2014.

Menurut dia, tokoh sipil maupun militer memiliki peluang yang sama menjadi cawapres Jokowi. “Kalau saya tidak melihat begitu signifikan, ya. Militer oke, sipil oke, militer yang purnawirawan ya, oke dua-duanya,” katanya.

Dalam sejumlah hasil survei, duet Jokowi-JK di Pilpres 2014 paling banyak didukung. Hasil survei Pusat Data Bersatu (PDB) beberapa waktu lalu, misalnya, menyebut Jokowi dan JK adalah pasangan yang paling ideal. Berdasarkan survei PDB, tingkat elektabilitas pasangan Jokowi-JK mencapai 17,4 persen.

Jika nanti akhirnya Jokowi berhasil menjadi orang nomor satu di republik ini, tentu rakyat berharap lelaki kurus ini tetap seperti yang dulu sederhana, pekerja keras, berpihak kepada orang miskin yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, menyejahterakan masyarakat, bertindak tegas tetapi memberikan solusi dan tentunya tidak terlibat korupsi.

Sumber : Harian Sinar Indonesia Baru, Senin 17 Maret 2014

Link: http://hariansib.co/view/Opini/7988/Dari-Balai-Kota-Melenggang-ke-Istana-.html#.Uya4N4aQags

Leave a Reply

Your email address will not be published.

We take processes apart, rethink, rebuild, and deliver them back working smarter than ever before.