News & Blog

Rilis Temuan Survei Nasional Tatap Muka Poltracking Indonesia : MEMBACA PETA ELEKTORAL & DINAMIKA PARTAI POLITIK

Poltracking Indonesia menyelenggarakan survei nasional pada pertengahan pertengahan Agustus 2026, dengan menggunakan metode stratified multistage random sampling. Pengambilan data lapangan dilakukan pada tanggal 14 – 20 Agustus 2026. Sampel pada survei ini adalah 1220 responden dengan margin of error +/-2.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Klaster survei menjangkau 38 provinsi di seluruh Indonesia secara proporsional berdasarkan data jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) 2024, sedangkan stratifikasi survei ini adalah proporsi jenis kelamin pemilih. Pengumpulan data dilakukan oleh pewawancara terlatih melalui wawancara tatap muka terhadap responden yang telah terpilih secara acak serta dibantu teknologi aplikasi. Setiap pewawancara mewawancarai 10 responden untuk setiap satu desa/kelurahan terpilih.

Maksud dan tujuan dari survei ini secara umum untuk mengukur peta elektoral dan dinamika partai politik terkini. 5 temuan pokok hasil survei dapat dijelaskan sebagaimana berikut:
Pertama. Publik masih percaya terhadap keberadaan partai politik (49.7%), sedangkan yang mengatakan tidak percaya (37.1%). Publik merasa dekat dengan partai politik (12.3%), sedangkan yang tidak merasa dekat (66.8%). Sementara pada Pileg publik lebih cenderung memilih Caleg (53.3%) dibandingkan memilih Partai Politik (24.7%).

Kedua. Sebanyak (17.7%) publik mengatakan tahu tentang ambang batas parlemen saat ini 4 persen, sedangkan yang mengatakan tidak tahu (64.7%). Di antara yang mengetahui ambang batas parlemen saat ini, sebanyak (49.0%) menilai ambang batas parlemen lebih tepat tetap 4 persen, (14.8%) menilai ambang batas parlemen lebih tepat di atas 7 persen dan (7.6%) menilai ambang batas parlemen lebih tepat 6 persen.

Ketiga. Sebanyak (44.6%) publik mengatakan dukungan partai politik terhadap salah satu pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden tidak mempengaruhi pilihan terhadap partai politik tersebut, sedangkan (32.8%) mengatakan mempengaruhi. Sementara itu, sebanyak (44.5%) publik mengatakan bahwa dukungan partai politik tidak mempengaruhi pilihan terhadap pasangan calon presiden – wakil presiden tertentu, sedangkan (33.0%) mengatakan mempengaruhi. Sementara sebanyak (57.6%) publik mengatakan tidak tahu/kenal anggota DPR RI yang mewakili daerahnya, sedangkan (26.2%) mengatakan tahu/kenal.

Keempat. Pada pertanyaan terbuka (top of mind) partai politik, yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar PKB yakni Nahdlatul Ulama (6.1%), yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar Partai Gerindra yakni Prabowo Subianto (26.1%), yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar PDI Perjuangan yakni Megawati Soekarnoputri (17.0%), yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar Partai Golkar yakni lambang pohon beringin (6.4%), yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar Partai NasDem yakni Surya Paloh (11.0%), yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar PKS yakni Agamis (3.2%), yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar PAN yakni Zulkifli Hasan (2.8%), yang paling terekam dalam ingatan publik ketika mendengar Partai Demokrat yakni Susilo Bambang Yudhoyono (16.0%).

Kelima. Pada simulasi surat suara 18 partai politik, Partai Gerindra memperoleh elektabilitas (23.2%), diikuti PDI Perjuangan (11.6%), Partai Golkar (10.4%), PKB (6.2%), Partai Demokrat (6.1%), Partai NasDem (4.4%), PAN (3.4%), PKS (3.3%), PSI (2.3%), PPP (1.9%), sedangkan partai lainnya dibawah 1 persen.

Temuan dan analisa ini merupakan potret terbaru dari survei yang dilakukan pada pertengahan Agustus 2026. Berbagai kemungkinan tentang persepsi publik masih berpotensi terjadi, bergantung pada isu dan langkah-langkah strategis yang akan diambil oleh partai politik.

Jakarta, 23 September 2026
Yoki Alvetro
Peneliti Poltracking Indonesia

Contact Person:
Yoki Alvetro (085263220094)